News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Selasa, 10 November 2015

Menggagas Cirebon Green Smart City

Rochimudin Indonesia | Selasa, 10 November 2015 | 23.28 |
Di era global sekarang, kemajuan suatu kota tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah, banyaknya penduduk, ataupun jumlah sumber daya alam yang dimiliki. Akan tetapi kemajuan sebuah kota tergantung dari kecerdasan warga kota dalam mengelola diri dan lingkungannya. Singapura dan Jepang adalah contoh kota atau negara yang tidak punya sumber daya alam yang berlimpah juga kesuburan tanah yang kurang dan sempitnya wilayah daratan. Namun kini mereka sudah bangkit menjadi raksasa ekonomi di Asia.

"Sebuah kota tidak diukur dari ketinggian dan lebar wilayah, tapi dari keluasan visi dan tingginya mimpi kota itu yang ingin diwujudkan”

- Herb Caen (Jurnalis Amerika Serikat)

Kompleksitas permasalahan pembangunan yang dihadapi oleh Kota Cirebon juga dihadapi oleh kota-kota lain di Indonesia. Kota Cirebon merupakan salah satu kota penting di tengah jalur pantura yang menghubungkan Jakarta - Semarang dan Surabaya yang terkenal dengan motto Gemah Ripah Loh Jinawi. Gemah Ripah Loh Jinawi adalah perjuangan masyarakat sebagai bagian bangsa Indonesia bercita-cita menciptakan ketentraman/perdamaian, kesuburan, keadilan, kemakmuran, tata raharja serta mulia abad (www.cirebonkota.go.id).

Kota Cirebon memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang telah terkenal di Nusantara. Adanya Kasultanan Kasepuhan dan Kanoman dengan segala adat dan tradisinya merupakan kekayaan sejarah kota Cirebon. Warisan bersejarah ini akan mengembangkan wisata sejarah / budaya dan religi. Tentu hal ini akan menjadi keuntungan bagi pemerintah kota untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara. Belum lagi banyaknya objek wisata seperti Taman Sari Goa Sunyaragi, Taman Kalijaga, dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa menambah destinasi wisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Di sektor perdagangan dengan adanya pelabuhan Cirebon merupakan pintu gerbang yang menggerakan sektor maritim dan jasa pengiriman barang. Konsep Cirebon sebagai tempat istirahat karena ada pelabuhan dan di tengah jalur pantura Jakarta - Surabaya harus diubah menjadi tempat wisata belanja dan kuliner. Terdapat beragam home industri kerajinan dan berbagai tempat kuliner harus dipromosikan sehingga pengunjung datang untuk berbelanja tidak sekedar beristirahat.

Perkembangan perekonomian Cirebon akan makin meningkat apabila dapat menarik investasi dengan dukungan infrastuktur yang memadai serta peran serta pemerintah kota dalam membuat kebijakan ekonomi yang inovatif dan transparan.  Pengembangan pelabuhan yang ditambah kapasistas dan daya tampung kapal akan membuat ramai aktivitas perekonomian. Lingkungan yang kondusif dengan kehidupan yang religius, kemudahan berusaha, pengembangan pendidikan yang lebih berkualitas serta kestabilan politik dan pemerintahan membuat nyaman investor untuk menanamkan investasinya.

Perkembangan peningkatan pembangunan yang telah dicapai menunjukan adanya peningkatan pelayanan masyarakat yang merupakan urusan pemerintah kota yang bersifat wajib. Berbagai layanan umum seperti pendidikan, sosial, administrasi, kesehatan sudah baik, namun wajib hukumnya untuk ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Permasalahan yang muncul seperti kemacetan, pemeliharaan infrastruktur, antisipasi musim penghujan perlu dicarikan solusinya. 

Peningkatan layanan umum yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Cirebon semakin ditingkatkan sejalan dengan digulirkannya konsep smart city, yang terdiri dari 6 dimensi yaitu smart economy (ekonomi pintar), smart environment (lingkungan pintar), smart people (masyarakat pintar), smart life (cerdas hidup), smart mobility (mobilitas pintar) dan smart government (pemerintah pintar). Peningkatan pelayanan masyarakat di berbagai bidang sejalan dengan visi pemerintah kota Cirebon tahun 2013 - 2018 yaitu Terwujudnya Kota Cirebon Sebagai Kota yang Religius, Aman, Maju, Aspiratif dan Hijau (RAMAH) pada Tahun 2018.

Pelayanan umum bagi warga masyarakat merupakan bagian dari misi pemerintah kota Cirebon yang menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas sumber daya Kota Cirebon dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk melayani rakyat atau masyarakat dengan cara pelayanan yang terbaik / pelayanan prima. Di samping pelayanan masyarakat, tugas pemerintah kota dalam meningkatkan perkembangan perekonomian menuju terwujudnya warga masyarakat yang sejahtera juga penting untuk menjadi misi andalan. Oleh karena itulah konsep smart city di kota Cirebon tepat untuk menjadi sarana dalam mewujudkannya.


Implementasi Green Smart City

Melihat arah pembangunan jangka menengah dalam rangka peningkatan kualitas layanan umum, pemerintah kota telah menyiapkan SDM dan Iptek menuju penerapan Smart City. Penggunaan iptek atau komputer untuk mempercepat pelayanan umum disebut dengan digital city, jadi belum smart city. Upaya digital city patut dihargai dengan beberapa upaya yang telah dilaksanakan seperti:
1. Penambahan area hot spot untuk akses internet.
2. E government dalam pelayanan publik
3. Pelatihan-pelatihan IT dan open source.
4. Pembuatan website di tiap SKPD dan instansi dan melink dengan website pemerintah kota Cirebon.
5. Merangkul dan mengakomodasi blogger Cirebon sebagai bagian dari partisipasi masyarakat digital.

Kota yang hijau sebagaimana tercantum dalam visi pemerintah Kota Cirebon tahun 2013 - 2018 dapat digabungkan dengan konsep smart city. Hijau berarti pembangunan di kota memperhatikan lingkungan dan melakukan penanaman pohon di berbagai tempat strategis. Area-area atau ruang terbuka hijau perlu ditambah dan disinergikan dengan kemudahan akses layanan internet. Hijau juga berarti kehidupan masyarakat yang religius.

Konsep smart city lebih luas daripada digital city. Menurut Telkom Solution (telkomsolution.com) smart city merupakan implementasi dan solusi terhadap permasalahan sumber daya di suatu kota agar menjadi lebih Aman, Nyaman, Efisien dan Berkelanjutan (sustainable). Konsep ini membutuhkan dukungan dan komitmen pemerintah kota sebab membutuhkan partisipasi pemerintah dan warga masyarakat, instansi atau SKPD, swasta, dan sebagainya.

Menurut Wiwin Purnomowati dan Ismini (dalam JIBEKA Volume 8 No 1 Februari 2014) terdapat enam pilar atau dimensi dalam pembangunan smart city yaitu:

1. Smart economy (ekonomi pintar)
Ekonomi pintar dibangun berdasarkan inovasi dan persaingan. Disini diperlukan transparansi data kependudukan sehingga dapat diketahui tingkatan usia produktif dan tenaga kerja. Tenaga kerja didorong untuk profesional atau berwirausaha untuk menciptakan ekonomi keluarga yang lebih baik. Dalam prsaingan global, tenaga kerja yang profesional dan berintegritaslah yang banyak dibutuhkan pangsa pasar. Dan pengusaha yang mampu berinovasi dan bersaing secara fair yang mampu berkompetisi di pasar regional ASEAN Economic Community dan pasar global. Home industri didorong dengan modal dan pelatihan yang dibutuhkan agar dapat bersaing. Unit usaha yang mampu berinovasi secara terus menerus yang akan menembus pasar dan mampu berkompetisi secara jangka panjang.

2. Transportasi dan infrastruktur
Perlu dibuat sistem terintegrasi antara transportasi dengan infrastrukturnya sehingga efektif dan tidak boros waktu, energi dan tenaga. Manajemen transportasi diatur dengan sistem termasuk secara elektronik dengan aplikasi agar tertib dan memberikan pelayanan dengan optimal. Sarana infrastruktur jalan dan trotoar harus diintegrasikan sehingga ketertiban, kelancaran transportasi menjadi kebanggaan. Dengan mudahnya akses trasportasi dan infrastrukturnya maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat.
Lalulintas data internet juga sudah harus membuka diri terhadap akses internet cepat seperti Smartfren 4G LTE. Kemudahan sinyal dan perangkat unduh sangat penting bagi komunikasi dan pembelajaran on line.

3. Masyarakat pintar
Masyarakat yang pintar atau cerdas merupakan potensi atau modal sosial untuk mendukung laju perekonomian dan kemajuan kota. Masyarakat yang pintar akan berpegang pada nilai-nilai karakter yang telah diajarkan di sekolah maupun norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan ini diharapkan tingkat kriminalitas semakin turun. Disini diperlukan kerja sama dengan aparat keamanan dan membuat suatu media bersama sebagai komunikasi dan aspirasi.

4. Lingkungan pintar
Lingkungan pintar adalah lingkungan yang tidak dikorbankan dalam pelaksanaan pembangunan. Lingkungan dijaga dan dilestarikan sebagai penopang gaya hidup sehat dan mengatasi bencana alam. Apabila kita ramah terhadap alam maka alampun tidak akan murka kepada kita. Lingkungan yang hijau dengan taman dan ruang terbuka hijau diintegrasikan dengan konsep teknologi sehingga dihasilkan smart city yang berwawasan lingkungan atau green smart city. Pemerintah kota Cirebon harus berani dan berkomitmen membangun taman dan ruang terbuka hijau terutama di perkotaan. Keberhasilan pemerintah kota dalam mengatasi sampah patut dijadikan contoh bagi generasi muda agar arif terhadap sampah.

5.  Cerdas hidup
Cerdas hidup maksudnya setiap warga masyarakat memiliki kualitas hidup yang berbudaya (beradab). Ia senantiasa mau memperbaiki diri dan menganggap pendidikan itu penting dan segala-galanya dapat datang dari pendidikan. Warga yang lulus SLTA diupayakan kuliah dan lulusan SMK diupayakan bekerja sesuai dengan bidangnya.

6. Good Governance
Pemerintahan yang bersih dan bebas dari penyakit korupsi (KKN) merupakan sebuah keharusan. Penyelenggaraan good governance berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik yang menjunjung tinggi supremasi hukum dan keadilan dan kebernaran. Citra pemerintah kota Cirebon yang baik beserta para pemimpin / pejabat pemkot Cirebon dan penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel akan membuat rakyat percaya dan menumbuhkan partisipasi publik. Kepercayaan dan partisipasi publik merupakan modal awal pemerintahan yang baik dalam membangun Cirebon sebagai Green Smart City.

Sembilan parameter menentukan smart city
(dok: www.telkomsolution.com)

Sedangkan Telkom solution dalam www.telkomsolution.com, terdapat 9 (sembilan) parameter utama untuk menentukan apakah suatu kota termasuk kategori Smart City yaitu:


1. Smart Energy
Terpenuhinya sistem penyimpanan dan penggunaan sumber energi secara efisien. Untuk bangunan gedung harus dimulai dari penyediaan energi listrik yang diproduksi sendiri dengan panel-panel pembangkit listrik tenaga surya (solar system) atau angin (air turbine), mengurangi AC, kipas angin, dan penghangat ruangan. Lampu-lampu penerangan jalan dan traffic light perlu secara bertahap diganti dengan lampu LED yang lebih hemat daya dan berenergi surya. Papan reklame juga bertahap migrasi dari papan fisik atau MMT menjadi digital dengan penempatan titik papan reklame digital seperti TV layar lebar yang menggunakan energi matahari. Selain hemat energi, hal ini akan menghemat anggaran dan menjaga keindahan kota.

2. Smart Building
Penerapan tata bangunan yang cerdas, hemat energi (green building), sistem otomatisasi dan menggunakan Advance HVAC (Heating Ventilation & Air Conditioning). Apabila akan mendirikan bangunan, pemerintah kota Cirebon perlu mengupayakan konsep green building, artinya bangunan tidak hanya mengandalkan energi listrik dari PLN namun juga menggunakan atap dengan teknologi untuk menyerap listrik dari matahari atau angin. Menghindari penggunaan AC dengan konsep pintu dan jendela yang aerodinamis sehingga hemat energi.

3. Smart Mobility
Penggunaan sistem manajemen lalulintas yang canggih, manajemen parkir dan multimodel moda transportasi. Sarana transportasi modern seperti bus rapid transportation, commuter line, monorel, taksi kota perlu dirintis dan diintegrasikan dengan akses transportasi lainnya tanpa mematikan usaha transportasi konvensional. Disini diperlukan investor yang mau menggarap sektor transportasi ini. Perlu dicoba penggunaan kartu elektronik atau pembayaran melalui aplikasi pada layanan transportasi umum terutama yang terintegrasi sehingga memudahkan konsumen. Akses masyarakat secara real time dapat melihat berbagai tempat publik melalui internet seperti terminal pelabuhan, jalan protocol dan umum yang strategis, pasar induk, dan sebagainya.

4. Smart Technology.
Terwujudnya seamless connectivity termasuk 4G, Wi-fi, superbroadband, 1 Gbps download, Augmented Reality, LBS, dan GPS. Untuk mempermudah persebaran titik hotspot dan layanan akses internet cepat perlu dibangun sinergi dengan berbagai provider atau operator seluler mengingat besarnya anggaran apabila dikerjakan oleh pemerintah kota Cirebon sendiri. 

5. Smart Infrastructure
Penggunaan manajemen sensor yang terintegrasi. Untuk mengurangi prosedur yang panjang, presensi yang lama, dan antian yang lama dalam berbelanja misalnya, maka perlu perangkat atau aplikasi smart infrastruktur yang sesuai.

6. Smart Governance & Education. 
Dengan terbentuknya sistem E-Goverment maka pelayanan warga dan akses informasi menjadi cepat, real time, dan transparan. Disini diperlukan kesiapan aparat PNS dan pimpinan kota Cirebon. E-Governance ini dapat membentengi pejabat dan PNS untuk bekerja transparan dan profesional sehingga mampu menghindari praktik korupsi /KKN. Masyarakat dapat bertanya atau mengajukan usul kepada pemerintah secara lebih mudah dengan menulis pesan di website atau aplikasi komunikasi dengan Walikota. Walikota dapat dengan mudah melakukan cek dan inspeksi dengan informasi yang sudah didapatkan secara real time dari E-Governance.

e-Education merupakan portal data untuk dinas pendidikan dalam menyampaikan informasi kebijakan pemda dan database sekolah yang ada mulai dari PAUD sampai SLTA. Penerimaan siswa baru SMP dan SMA dapat menggunakan aplikasi ini untuk proses seleksi dan administrasi pendaftarannya sehingga lebih transparan.

7. Smart Healthcare
Untuk menjangkau dan menjamin layanan kesehatan bagi warga kota Cirebon yang simpel, cepat dan datanya akurat perlu tersedianya konsep layanan kesehatan seperti e-Health, m-Health dan peralatan media yang cerdas dan saling terkoneksi. Layanan kesehatan yang terintegrasi dan terkoneksi dapat mengetahui siapa saja warga yang sudah atau sering menggunakan layanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit. Dinas Kesehatan nantinya harus mengembangkannya sebagai portal database kesehatan warga sehingga statistiknya dapat diakses melalui internet.
8. Smart Citizen
Warga masyarakat kota Cirebon harus didorong dan didukung untuk lebih mementingkan pendidikan sebab pendidikan adalah kunci pembangunan SDM dalam mewujudkan green smart city. Oleh karena itu tingkatan pendidikan secara rata-rata diusahakan lulusan perguruan tinggi dengan akhlak atau karakter yang baik. Sekolahan yang ada di Cirebon harus menekankan pada pembangunan akhlak dan karakter bangsa yang maju dan siap bersaing menghadapi perkembangan jaman dan tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dengan warga yang cerdas diharapkan budaya dan peradaban juga makin maju.

9. Smart Security
Pemerintah Cirebon penting untuk membangun terciptanya jaringan pengawasan, biometrik, dan model pencegahan untuk berbagai tindak kejahatan dan antisipasi bencana. Kita tidak dapat hanya mengandalkan pada Polisi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dalam mengatasi masalah keamanan dan bencana. Partisipasi masyarakat harus diupayakan sebab keamanan adalah faktor pembuat iklim pembangunan berjalan lancar. Demikian halnya dengan konsep green smart city yang membutuhkan pemeliharaan infrastuktur yang baik, baik dari segi fifik maupun jaringan.

Salah satu hotel yang sudah dapat menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung yaitu Aston Hotel Cirebon. Sebagai hotel yang terkenal laris dan disukai masyarakat baik dari kota Cirebon maupun luar kota, Aston Hotel telah berkembang mengikuti trend global tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Tujuan smart city adalah untuk mewujudkan kota yang aman, nyaman,
efisiensi dan berkelanjutan serta meningkatkan transparansi dan efisiensi
tata kelola pemerintahan kota (
dok: www.telkomsolution.com)  

Dengan mengutip referensi dari Wiwin Purnomowati dan Ismini dan telkomsolution.com diharapkan konsep smart city menjadi jelas indikatornya. Jangan terjebak pada digital city dalam penerapan green smart city.

Perlu diingat keberhasilan green smart city perlu memperhatikan hal penting berikut:

  • 1. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threatment). Analisis SWOT digunakan untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi sehingga dapat diperoleh perencanaan matang yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan di depan yang mungkin menghadangnya.
  • 2. Sosialisasi kepada pemangku kepentingan, stakeholder dan masyarakat. Sosialisasi dibutuhkan agar semua pihak memiliki satu pandangan atau visi tentang smart city. Sosialisasi bertujuan agar warga mengetahui dan dapat berpartisipasi dalam program green smart city.
  • 3. Modal dan investasi. Keberhasilan program ini dipengaruhi oleh modal atau anggaran. Untuk mendukung kesuksesannya diperlukan pihak-pihak yang mau investasi disini.


Nah .... green smart city membutuhkan dukungan berbagai pihak, tidak dapat dikerjakan sendiri oleh pemda kota Cirebon. Oleh karena itu keterlibatan masyarakat dan pihak-pihak lain sangat diperlukan sebab Cirebon merupakan kota kebanggaan bersama. Dengan green smart city pertumbuhan ekonomi akan naik yang berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan

//