News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Jumat, 09 Oktober 2015

Yang Muda yang Menjadi Benteng Ketahanan Kota Semarang

Rochimudin Indonesia | Jumat, 09 Oktober 2015 | 00.59 |
Ketahanan kota merupakan kondisi dinamis masyarakat dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan baik yang berasal dari dalam maupun luar kota atau yang dalam program 100 resilient cities disebut dengan guncangan dan tekanan. Guncangan adalah peristiwa atau kondisi yang terjadi tiba-tiba yang bisa melumpuhkan atau mengganggu berjalannya fungsi kota. Sedangkan Tekanan adalah peristiwa atau kondisi yang terjadi berkala atau terus menerus yang bisa melemahkan berjalannya fungsi kota. Siapkah kita menghadapi guncangan dan tekanan?
Daftar Guncangan dan Tekanan (dok: 100rcsemarang.org)

Semua guncangan dan tekanan yang akan atau sudah datang dibutuhkan persiapan matang dalam menghadapinya. Persiapan meliputi kesiapan SDM atau manusia, institusi, dan sarana prasarana yang diperlukan. Namun yang perlu pertama disiapkan adalah kesadaran diri. Kesadaran diri sebagai insan warga kota Semarang yang menyiagakan diri menghadapi apapun guncangan dan tekanan. Kesiapan diri berupa mental dan pikiran dan sarana prasarana.

Menghadapi Guncangan
1. Banjir
Warga kota Semarang harus menyiagakan diri menghadapi musim penghujan. Khusus warga Semarang Bawah bersiap menghadapi banjir dan kemungkinan wabah penyakit sebagai efek banjir. Sebenarnya banjir bukan hanya air kiriman dari atas atau Semarang bagian atas namun juga banjir karena pasangnya air laut atau rob. Apa persiapan yang perlu dilakukan dalam menghadapi banjir:


Sejumlah warga mengangkut motor dan pengendaranya dengan menggunakan gerobak, saat terjadi banjir
di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Sabtu (9/2). Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang dalam
beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan.
(Dok gbr: antarajateng.com)


a. Meninggikan pondasi rumah atau membuat rumah tingkat.

Lihatlah yang telah dilakukan pemerintah kota dengan meninggikan jalan raya agar tidak terendam air secara terus terusan terutama karena banjir. Pondasi rumah juga perlu ditinggikan agar air tidak masuk ke rumah meskipun banjir. Atau membuat rumah jadi bertingkat dengan harapan lantai atas untuk meyimpan barang-barang yang dapat rusak apabila terkena air.

b. Kerja bakti
Kerja bakti diperlukan dalam menghadapi musim hujan dengan membersihkan sungai atau got/saluran air serta mempersiapkan kantong-kantong pasir untuk berjaga-jaga. Selain volume air yang besar pada musim penghujan, masalah sampah di sungai dan saluran air dapat menyebabkan banjir dan banjir dapat bertahan lama karena air kesulitan mengalir terhambat oleh sampah. Titik-titik jalur evakuasi nanti apabila terjadi banjir sudah harus dipersiapkan sehingga akan meminimalisir korban jiwa.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat resik-resik kali di Kelurahan Kemijen,
Semarang Timur, Jumat (8/5). (foto: Artsenta/Rakyat Jateng).

c. Pengerukan sungai
Pengerukan sungai terutama dengan alat berat diperlukan sebab sedimentasi di sungai di kota Semarang bisa dikatakan tinggi sebab wilayah hilir menjadi arus terakhir dari perjalanan air mengalir. Oleh karen aitu dengan pengerukan, arus air akan menjadi lancar dan daya tampung sungai diharapkan dapat menampung debit air yang besar.

Pekerja melakukan pengerukan segdimentasi dan eceng gondok di bantaran sungai banjir kanal barat,
Jalan Madukoro Raya, Kota Semarang, Jateng, Rabu (2/9/2015). Pengerukan segdimentasi
dan eceng gondok yang membutuhkan waktu pengerjaan selama dua minggu ini untuk
antisipasi masuknya musim hujan. (Dok gbr: Tribun Jateng)

d. Penghijauan dan penataan lingkungan daerah hulu
Daerah hulu dari sungai-sungai yang bermuara di Semarang harus mendapat perhatian dari pemerintah kota denga bekerja sama dengan pemerintah daerah yang terkait seperti pemkab Semarang dan pemprov Jawa Tengah. Sinergi ini untuk menjaga dan memperbaiki kawasan hulu sehingga dapat mencegah banjir. Apabila daerah hulu sudah rusak dan berdiri banyak bangunan rumah atau villa maka air akan langsung mengalir ke sungai secara langsung sehingga selain debit air yang besar juga arusair yang sangat cepat sehingga dapat mengakibatkan tanggul jebol dan tanah longsor.

2. Wabah penyakit
Wabah penyakit yang sering dihadapi khususnya pada musin hujan adalah demam berdarah. Potensi demam berdarah termasuk tinggi di Semarang. Sehingga kebersihan rumah dan lingkungan masyarakat harus diperhatikan. Fogging atau pengasapan merupakan salah satu langkah namun belum tentu efektif membunuh nyamuk, sebab biasanya nyamuk akan kebal dengan fogging. Kembali lagi kesadaran akan kebersihan lingkungan rumah dan masyarakat sangat penting dalam mencegah berjangkitnya wabah penyakit ini.

3. Kebakaran
Kebakaran dapat dibagi menjadi dua yaitu kebakaran bangunan rumah atau gedung dan kebakaran hutan atau semak belukar. Potensi yang tinggi di Semarang adalah yang pertama. Sebagai contoh gedung Polda Jateng terbakar karena hubungan arus pendek, Kantor Balai Kota lantai lima juga pernah terbakar. Pasar Johar juga hancur karena kebakaran.

Suasana Markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah yang
terbakar, Rabu (30/9). (Dok gbr:
CNN Indonesia.com)
Hal ini penting untuk disosialisasikan untuk pencegahan terutama masalah arus listrik. Pengecekan listrik oleh PLN dan warga sendiri sangat penting untuk pencegahan. Budayakan menggunakan listrik dengan bijak dan hati-hati.

Menghadapi Tekanan
1. Krisis Air Bersih
Krisis air bersih sering dirasakan saat musim kemarau yang panjang sebab debit air di sungai yang dijadikan sumber air bersih oleh PDAM menjadi berkurang debitnya sehingga pasokan air ke rumah tangga dan kantor serta industri menjadi berkurang. Sementara sumber mata air yang dijadikan alternatif oleh warga tentunya juga berkurang debit airnya. Oleh karena itu mulailah terjadi krisis air bersih. Salah satu solusi adalah mengolah air waduk Jatibarang menjadi air bersih. Sayangnya belum ada usaha untuk ini. Apabila PDAM dapat melaksanakan pengolahan air di waduk akan menjadi alternatif yang baik dari krisis air bersih. Jangan lupa warga juga menghemat penggunaan air PAM.

2. Banjir Rob dan Abrasi
Banjir yang disebabkan oleh pasangnya air laut ini sangat mengganggu masyarakat di pesisir pantai sebab air banjir berwarna hitam dan dapat menyebabkan penyakit kulit seperti gatal. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi rob yaitu:

a. Perbaikan pesisir pantai dengan penanaman mangrove
Pesisir pantai di Semarang sering mengalami abrasi dan penurunan tanah. Oleh karena itu salah satu upayanya dengan menanami pohon bakau sehingga dapat membuat hutan bakau. Hutan bakau inilah yang akan menahan abrasi dan pasang air laut dan penurunan permukaan tanah. Kesadaran menanam bakau di wilayah pesisir pantai sangat penting. Apabila sudah jadi pun dapat dimanfaatkan untuk wisata dan habitat satwa seperti burung dan ikan.


Cegah abrasi, petani di Mangkang Wetan Kec. Tugu  tanam mangrove 95 hektare.
(Dok gbr: merdeka.com)

b. Pembuatan tanggul penahan ombak
Tanggul penahan ombak atau sabuk pantai juga perlu dipikirkan sebagai alternatif. Kita dapat belajar dari negara Belanda yang sukses dengan bangunan air dan keberhasilan mengelola wilayah pesisir laut.

3. Stabilitas Pasokan Listrik
Krisis energi listrik yang membayang di depan mata secara nasional disebabkan oleh tidak cukupnya pasokan listrik dalam melayani kebutuhan manusia. Oleh karena itu perlu dicari sumber listrik baru melalui pembangunan pembangkit listrik dan energi alternatif seperti matahari. Beberapa penerangan jalan raya sudah menggunakan energi surya cuma belum banyak dilakukan. Dengan telah dibangunnya waduk Jatibarang tentunya dapat memasok listrik yang besar yang dapat dimanfaatkan oleh warga kota Semarang. Tidak lupa kesadaran menggunakan listrik dengan hemat dan bijak juga perlu diteruskan dan dikembangkan.

Bendungan atau waduk Jatibarang menyimpan potensi energi listrik PLTA
(Dok gbr: yasiryafiat.wordpress.com)

4. Kemacetan
Kemacetan sudah banyak mendera kota-kota besar di Indonesia. Namun di Semarang tengah diupayakan cara mengatasinya antara lain dengan pelebaran jalan dan pembuatan underpass dan fly over seperti pelebaran jalan utama di Ngalian, Fly over Kalibanteng, dan pembuatan underpass Jatingaleh. Semua pekerjaan solusi fisik kemacetan sebenarnya menjadi tidak banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan kesadaran warga dalam berlalu lintas. Kesadaran berlalu lintas penting sebab selain kemacetan karena volume kendaraan yang banyak di jalan raya juga disebabkan oleh oknum warga yang tidak sabar di jalan raya seperti menerobos traffic light, melebihi marka jalan, kebut kebutan, tidak mau antri atau nunggu ketika arus lalu lintas padat, dan sebagainya.

Pada jam-jam tertentu mengalami kemacetan parah. Kemacetan terjadi mulai tanjakan Gombel
hingga traffic light Kaliwiru. Selain tingginya volume kendaraan juga lantaran kendaraan roda empat
yang keluar-masuk tol di depan Pasar Jatingaleh. Dok gbr: 
radarpekalongan.com)

5. Pencemaran
Pencemaran dapat disebabkan oleh limbah industri maupun rumah tangga. Industri dan hotel yang ada di Semarang tentunya sudah memiliki instalasi pengolahan limbah. Namun yang harus dipantau adalah jangan sampai membuang limbah ke sungai atau tempat yang tidak semestinya. Pembuangan limbah ke sungai akan menyebabkan pencemaran dan sebagai wilayah hilir maka warga kota bagian bawah atau pesisir akan merasakannya. Pencemaran udara melalui asap pabrik dan knalpot kendaraan menyebabkan indeks kualitas udara menurun.

Pencemaran di sebuah sungai di Semarang. Dok gbr: nawasis.com)

Kesadaran warga bagaimana untuk mengatasi pencemaran:

a. Hindari membuang sampah sembarangan.
Mulailah memilah sampah sejak dari rumah seperti memisahkan sampah organis dan an organik. Berusahalah memiliki tempat pengolahan sampah organik yang dapat dijadikan pupuk. Sampah plastik atau an organik dapat dijual. Kesadaran warga akan pemilahan sampah dan pemanfaatan sampah akan menekan angka pencemaran di kota Semarang.

b. Gunakan kendaraan bermotor dengan bijak
Pasanglah mesin dan knalpot sesuai standar pada mobil atau motor sehingga asap yang keluar di dalam batas normal. Cobalah mulai beralih atau menggunakan sepeda ontel atau sepatu roda atau berjalan kaki sehingga tercipta pola kebiasaan yang sehat. Ingatlah pabila kita menaiki kendaraan bermotor maka yang terkena asapnya adalah orang lain bukanya kita yang menggunakannya, sehingga perlu kesadaran diri dan tenggang rasa. Kaum muda sebagai pengguna terbanyak motor dan mobil harus memelopori kesadaran ini sehingga generasi berikutnya juga akan malu apabila membuat pencemaran.

c. Mulailah menggunakan energi alternatif yang ramah lingkungan
Penggunaan energi surya, angin dan alternatif lainnya sangat mendukung gerakan ramah lingkungan. Konversi dari minyak tanah ke gas atau LPG / LNG juga sangat bagus dampaknya bagi lingkungan karena berkurangnya pencemaran oleh asap.

Guncangan dan tekanan harus kita atasi dengan upaya persiapan yang baik yang meliputi pencegahan atau antisipasi kejadian. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di lautan, guncangan dan tekanan adalah ombak besar yang menerpa sebuah kapal besar bernama Semarang di lautan. Apabila mampu mengatasi ombak besar tersebut maka Semarang menjadi tangguh. Kesadaran warga terutama para pemuda sangat penting untuk mengatasi guncangan dan tekanan sebab kaum muda nantinya yang akan menentukan nasib kota ini. Ditangan pemuda yang baik dan kompeten kota Semarang akan menjadi tangguh dan lebih baik. Benteng ketahanan Kota Semarang untuk masa depan berada di pundak para pemuda Semarang. Semoga dengan menjadi bagian dari 100 resilient cities, Kota Semarang semakin tangguh dan berbudaya.

2 komentar:

  1. Kereeen. Sukses!
    Intip blogq jg :-) bit.ly/MilnaBlogCompetition

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung. Sudah kuintip blogmu.

      Hapus

Berlangganan

//