News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Minggu, 07 September 2014

Pemanfaatan Blog dengan Olah IT Sesuai Nilai-Nilai Islam

Rochimudin Indonesia | Minggu, 07 September 2014 | 00.32 |



PENDAHULUAN
Blog merupakan salah satu sarana dalam berkreasi untuk berbagi informasi, ilmu, cerita, dan sebagainya. Blog secara sederhana pun dibuat dengan kemampuan IT meskipun kita dapat menggunakannya secara default. Apabila ditambah dengan berbagai skill seperti bahasa pemrograman, desain grafis, java atau css, dan sebagainya maka akan menjadi menarik.

Sebenarnya itu belumlah cukup, karena kemauan dan kemampuan untuk menulis atau mengisi konten bernilai lebih penting. Sebagai bagian dari hasil karya IT, weblog dapat menjadi sarna aktualisasi diri di tengah kepungan media online. Sebagaimana diungkapkan oleh Don Tapscott dalam Gwowing Up Digital (Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos: 2003:90) bahwa Kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital. 

Penguasaan TIK sudah merupakan kebutuhan bagi era dan generasi sekarang. Siapa yang tidak menguasai TIK akan ketinggalan dan dikatakan jadul (jaman dulu) dan gaptek (gagap teknologi). Perkembangan TIK akan mengarah menjadi digital dan mobile. Digital artinya hampir semua perangkat elektronik nantinya memerlukan atau akan dipengaruhi oleh TIK. Mobile artinya perangkat elektronik akan dapat dijalankan dengan sebuah remote atau hand phone yang kecil. Bagaimanapun dunia TIK merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh generasi muda untuk dapat masuk ke dunia internet baik sebagai pengguna maupun pemain. Sebaiknya kita jangan hanya jadi pengguna namun harus berusaha menjadi pemain.

Hal ini sesuai dengan konsep Cyber Generation, meminjam istilah dari Rhenald Kasali, Generasi C ini lahir di tengah arus informasi dan globalisasi. Mereka sudah mengenal perangkat telekomunikasi seperti HP, IPad, Gadget, dll sejak kecil sehingga para generasi cyber ini menyerap informasi termasuk ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Mereka sudah bukan lagi botol kosong yang kita sebagai guru akan menuangkan air. Mereka ibarat botol yang sudah berisi air, kita akan menambahkan air mungkin hanya sedikit selebihnya memastikan bahwa air yang ada dalam botol tersebut air yang bagus/berkualitas dengan pendidikan karakter yang mantap.

Mereka adalah generasi emas ketika tahun 2045 merupakan momentum 100 tahun indonesia merdeka dengan visi terciptanya Indonesia sebagai negara maju dan modern top 10 dunia. Sekali lagi mereka adalah pemuda yang saat itu sebagai agen perubahan penting. Bung Karno mengatakan, "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".

Oleh karena itu kita dan generasi muda bangsa Indonesia harus sadar dulu bahwa kini sedang tumbuh sebuah generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan generasi sebelumnya. Namun ada juga kendala yang dihadapi sebagaimana diungkap oleh Renate Nummela dan Geoffrey Cain (Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos: 2003:78) bahwa salah satu tempat yang beroperasi dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu adalah sekolah lokal. Kritik ini tidaklah berlaku bagi sekolah yang mengubah diri denga cepat, dan mendorong para siswanya untuk mengendalikan dunia mereka sendiri. Proses belajar nantinya akan semakin mandiri yang berarti di diarahkan sendiri dan dipenuhi sendiri.

PERMASALAHAN
Berdasarkan pendahuluan di atas, maka kita memperoleh tantangan yaitu bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan, ilmu pengetahuan, informasi, dan sebagainya secara cepat, mudah, efektif dan efisien. Untuk menjawab dan memenuhi kebutuhan tersebut pada era sekarang diperlukan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan perangkatnya. TIK dan perangkatnya sudah sulit untuk dilepaskan dalam keseharian kehidupan kita. Bahkan sebagian orang sudah merasa ketergantungan dengan perangkat TIK. Beberapa produk elektronik, mesin dan otomotif juga sudah mengaplikasikannnya. Jadilah era sekarang menjadi era digital. Bagaimana memadukan TIK dengan Blog dan Bagaimana nilai-nilai Islam melandasinya? Itulah yang akan kita bahas dalam pembahasan berikut.

PEMBAHASAN  
Kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan TIK harus dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Hal ini supaya dalam pembuatan, distribusi maupun pemanfataannya dapat bijaksana menuju ridho Alloh SWT (barokah). Berguna bagi diri dan keluarga serta membuat kemaslahatan masyarakat dan umat. Hal ini tidak mudah memang, karena segala dunia internet saja ibarat pedang bermata dua. Apabila usernya baik maka ia akan baik, namun bila usernya jahat atau tidak baik maka ia dapat menjadi mudharat. Landasan nilai-nilai Islam yang kuat diperlukan sebelum generasi kita atau anak-anak muda mengenal internet dan dunia TIK lainnya.

Kita akan lihat contoh aplikasi TIK yang berguna membantu kemaslahatan umat:
1. Widget pembantu penentu waktu sholat.
2. Pesan-pesan kata mutiara dalam Islam.
3. Membantu mengingat asmaul husna.
4. Aplikasi membantu menentukan arah kiblat.
5. Al quran digital.
Dan sebagainya.

Salah satu pemanfaatan TIK dalam dunia pembelajaran adalah e-leraning. Portal-portal e-learning sudah banyak tersedia. Dalam buku Strategi Belajar Mengajar yang ditulis oleh Drs. Hamdani, MA, dikemukakan berbagai pengertian e-learning antara lain:
  • E-learning merupakan suatu jenis belajar yang memungkinkan tersampaikannya  bahan ajar kepada siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2011).
  • E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer standalone (LearnFrame.com, 2001).
  • E-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalamnya penggunaan mobile technologies. Juga penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-ROM atau websites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, e-mail, blogs, wikis, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, electronic voting systems, dan lain-lain. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003; Athabasca University, Wikipedia).

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi atau komputer atau internet termasuk ke dalam e-learning. Sebenarnya konten e-learning dapat didistribusikan secara on-line maupun off-line. Secara on-line dengan menggunakan media internet sehingga memiliki jangkauan yang luas, melayani pembelajaran jarak jauh (distance learning), dan bisa tidak berbatas waktu. Sedangkan ssecara off-line, siswa menggunakan CD/DVD yang interaktif dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan konsep e-learning bagi saya merupakan sebuah revolusi pembelajaran modern. Apapun materi pelajaran dapat dibuat dan disampaikan dengan e-learning melalui berbagai cara on-line maupun off-line. Dukungan simulasi materi, video atau film, media pembelajaran, lagu atau suara, soal interaktif, e-book, media sosial untuk berinteraksi langsung seperti email, skype, facebook, twitter, dan sebagainya menjadikan pembelajaran menjadi lebih mudah, interaktif, dan sesuai dengan realita (baik realitas ilmu maupun realitas sosial masyarakat).

Sebagai sebuah revolusi pembelajaran, guru, termasuk saya, dituntut penguasaan teknologi informasi seperti komputer, internet, dan program aplikasi yang sesuai. Saya yakin kalau guru tidak segera menguasai ini, maka akan ketinggalan dari siswanya. Saya teringat salam tiga jarinya Prof. Dr. Suhartono dari UGM ketika menjadi pembicara Seminar Nasional Mengembangkan Spirit Nasionalisme Melalui Momentum Peringatan Hari Pahlawan di UNDIP Semarang, 2 Desember 2013, yang menyatakan untuk menjadi bangsa yang bisa atau mampu mandiri maka ada tiga cara, yaitu BISA karena TERPAKSA/DIPAKSA, BISA karena BIASA, dan BISA karena BELAJAR. Kita tinggal pilih mau BISA karena yang mana.

Homepage Blog Sahabat Edukasi
Perubahan teknologi informasi dan internet sangat cepat sehingga menciptakan sebuah tempat tanpa berbatas (borderless world). Demikian juga pembelajaran menjadi sangat menarik dan inovatif apabila digabungkan atau dilandasi dengan e-learning. Berikut merupakan contoh penerapan e-learning di abad 22:
 E-learning overview oleh Azelearning (dok: youtube.com)

Demikianlah penerapan prinsip-prinsip e-learning dengan blog dan olah kemampuan TIK telah coba saya coba aplikasikan dan terapkan dalam pembelajaran siswa di kelas atau sekolah dan lingkungan rumah. Tentunya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai Islam dalam penerapannya. Blog dan semua fasilitas e-learning dapat diakses menggunakan komputer atau lap top, netbook, IPad, HP, dan sebagainya. Bahkan tantangan sekarang sudah bergeser yaitu dari e-learning ke arah mobile learning. Oleh karena itu siswa yang menggunakan akses internet tidak sekedar sms, chatting, BBM, atau game, namun juga pembelajaran.

Berikut contoh foto-foto e-learning yang saya terapkan terhadap siswa di sekolah dengan memanfaatkan blog:

 
E-learning bagi guru merupakan sarana berbagi atau sharing sehingga dapat menyebar dan dikuasai oleh banyak rekan guru. Bagi siswa merupakan sarana interaktif yang tepat dalam belajar mandiri tanpa dibatasi oleh guru, waktu, tempat, dan jarak. Meskipun demikian, e-learning tidaklah menggantikan peran guru atau pendidik namun hanya sebagai sarana, metode, sumber belajar dan pembelajaran alternatif di tengah kemajuan iptek dan globalisasi.

Setelah menerapkan dalam pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, saya begitu merasakan manfaat e-learning bagi saya sebagai guru dan siswa anak didik saya. Manfaat bagi guru antara lain:
  • 1. Mudah dalam melakukan penyimpanan dan up date materi sealigus materi dapat dibuat interaktif.
  • 2. Menyediakan akses terhadap berbagai sumber belajar seperti teks, gambar, video, kuis interaktif, presentasi, dll.
  • 3. Menyediakan sarana dan lingukungan belajar yang berfokus pada siswa sehingga dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran.
  • 4. Komunikasi yang intens baik secara langsung maupun chatting serta umpan balik yang cepat.
  • 5. Pembelajaran tidak berbatas tempat dan waktu.

Sedangkan manfaat bagi siswa antara lain:
  • 1. Siswa mempunyai kemandirian dan keaktifan belajar.
  • 2. Dengan sumber belajar yang variatif siswa merasa memiliki kemudahan, tertarik dan tidak bosan.
  • 3. Dapat berkomunikasi dengan guru atau orang sebagai sumber belajar secara mudah.
  • 4. Memudahkan siswa dalam mengerjakan tugas sehingga efisien beaya, waktu, transportasi, dll.
Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh guru apabila mengharapkan e-learning berjalan dengan baik dan sukses yaitu:
  • 1. Memiliki semangat tinggi dan mencintai e-learning sesuai basic kompetensinya.
  • 2. Mampu membuat konsepsi materi yang akan diajarkan.
  • 3. Memiliki keterampilan mengajar dan mengelola pembelajaran dengan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi.
  • 4. Memiliki empati yang tinggi terhadap siswa baik secara langsung maupun on line.
  • 5. Senantiasa up date materi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • 6. Tekun mempelajari dan menguasai aplikasi (software, web, dll) yang berkaitan dengan e-learning.

 
PENUTUP
Oleh karena itu sudah waktunya sebagai pendidik menguasai e-learning untuk kemajuan pembelajaran sehingga lebih mudah dan bermakna menuju tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekali lagi, nilai-nilai Islam harus menjadi dasar atau landasan bagi praktisi IT dan user atau pengguna. Kita harus siap menjadi masyarakat pembelajar baru yang menurut Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos (2003:84) berisi 13 langkah yaitu:

1. Posisikan kembali peran komunikasi elektronik di dunia pendidikan.
2. Pelajari komputer dan internet.
3. Perbaiki secara total pendidikan bagi orang tua, khususnya orang tua baru.
4. Galakan layanan kesehatan bagi anak-anak demi menghindarkan mereka dari kesulitan belajar.
5. Ciptakan program pertumbuhan anak-anak yang bermutu bagi setiap orang.
6. Laksanakan program program ketinggalan pelajaran di setiap sekolah.
7. Temukan gaya belajar dan kecerdasan individu dan layani setiap gaya yang ada.
8. Agendakan bagi setiap orang: belajar tentang cara belajar dan cara berpikir.
9. Definisikan ulang apa yang harus diajarkan di sekolah.
10. Polakan kurikulum dalam 4 bagian, dengan penilaian diri dan pelatihan keterampilan hidup sebagai komponen kunci.
11. Terapkan 3 tujuan untuk sebagian besar studi.
12. Definisikan ulang tempat-tempat terbaik untuk pengajaran - bukan hanya di sekolah.
13. Bukalah pikiran dan ciptakan komunikasi yang segar.

Penggunaan internet sehat dan bijaksana dalam penerapan TIK sebagai masyarakat pembelajar merupakan langkah yang baik. Namun pemanfaatan TIK harus mengingat waktu agar bermanfaat dunia dan akhirat. Mari kita buat dan gunakan Blog dan kemampuan TIK sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk pembelajaran yang lebih baik. Terima kasih.

Get free daily email updates!

Follow us!


Ditulis Oleh: Rochimudin Indonesia ~ Untuk Pendidikan Indonesia

Artikel Pemanfaatan Blog dengan Olah IT Sesuai Nilai-Nilai Islam Semoga bermanfaat. Terimakasih atas kunjungan dan kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar baik FB comment maupun comment di blog. Sebaiknya berikan comment selain di FB comment agar cepat teridentifikasi.

Artikel Berkaitan:

1 komentar:

  1. Setuju mas, penerapan IT harus dilandasi nilai-nilai religius agar tidak mendatangkan mudharat bagi diri dan masyarakat. (dimas)

    BalasHapus

Berlangganan

//