News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Jumat, 27 Oktober 2017

Sensor Mandiri Melawan Hoax

Rochimudin Indonesia | Jumat, 27 Oktober 2017 | 00.43 |
Aksi kampanye antihoax (sumber: viva.co.id)
Harus disadari bersama, berita hoax merupakan bentuk baru dari politik devide et impera untuk memecah belah bangsa. Ketika zaman penjajahan, kita menghadapi penjajah (secara nyata), masa orde lama dan baru menghadapi provokator, dan di era reformasi kita menghadapi musuh bersama yaitu berita hoax. Bangsa yang dibentuk oleh persatuan dalam keberagaman ini, memerlukan musuh bersama. Ya, musuh bersama untuk memperkuat persatuan karena ada yang dilawan sebagai tantangan sekaligus dapat dijadikan kambing hitam apabila terpojok.

Bung Karno telah menyatakan bahwa,"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Kabar hoax yang mengepung kita melalui media sosial, aplikasi pesan singkat, dan media massa internet sebagian besar dibuat oleh saudara kita sendiri (by design). Oleh karena itu, benar menurut Bung Karno bahwa sekarang kita menghadapi saudara sendiri. 

Keberagaman masyarakat Indonesia yang dapat dipersatukan dalam kehidupan yang rukun dan damai menurut ahli-ahli di bidang sosial dan politik adalah suatu keniscayaan. Hal yang tidak mungkin tetapi di Indonesia mungkin dan nyata terjadi. Negara besar seperti Uni Sovyet dan Yugoslavia yang juga memiliki masyarakat yang beragam telah hancur menjadi kepingan negara-negara baru. Berdasarkan pengalaman tersebut, bangsa kita senantiasa akan menghadapi tantangan dan ancaman. Ibarat pelaut, pelaut hebat dilahirkan oleh ombak besar dan badai. Bangsa yang dapat lolos dan selamat menghadapi badai tantangan dan ancaman, maka akan menjadi bangsa yang besar, kuat dan ulung.

Kabar hoax yang menyerang harmonisasi keberagaman akan membahayakan keselamatan masyarakat, bangsa dan negara. Pesan radikal pernah menyusup melalui buku-buku pelajaran di sekolah (independen.id). Sekarang ini pesan diterbitkan secara mandiri seperti melalui aplikasi pesan instan berantai. Pesan yang dibawa berita hoax berisi fitnah, penipuan, provokasi atau hasutan, ujaran kebencian, dan pembodohan masyarakat. Pesan tersebut dikemas dalam bentuk teks (berita, artikel, ajakan, dan sebagainya), gambar (olah gambar atau foto), video (edit video atau video tidak sesuai fakta), maupun gabungan dari ketiganya. Orang yang membuat dan menyebarkan memiliki kemampuan dalam bidang Teknologi Informasi. 

Menurut Marwan, seorang mahasiswa peneliti dari Universitas Paramadina sebagaimana dimuat independen.id (4 September 2017), siswa SMA mudah dihasut konten berita Islam radikal karena minimnya literasi media. Padahal berita hoax banyak dibawa melalui media sosial. Literasi media ini sangat dipengaruhi pengetahuan siswa terhadap materi yang dibaca serta kemampuan untuk melakukan konfirmasi atau verifikasi konten berita. Masyarakat secara umum juga tingkat pendidikannya masih belum tinggi dan penggunaan smartphone (gawai) untuk mengakses internet dan media sosial juga tidak memiliki batasan usia. 

Namun, mengapa mereka tega membat berita hoax? Pertama, mereka tidak suka dengan harmonisasi keberagaman sehingga berniat membuat disharmoni atau disintegrasi. Senjata untuk memecah belah persatuan bangsa adalah adu domba sesama anak bangsa. Kedua, unsur kepentingan politik sesaat. Mereka menggunakan isu sosial politik seperti pemilu, pemilukada, dan rivalitas politik praktis. Kepentingan sesaat ini dapat menyebabkan kepentingan bangsa menjadi terkoyak. Ibaratnya, karena nila setitik maka rusak susu sebelanga.

Ketiga, motif ekonomi. Dengan membuka laman situs kabar hoax maka akan meningkatkan traffic website atau blog dan promosi secara mudah dan meriah. Inilah motif ekonomi yang tidak memperhatikan kepentingan bangsa yang lebih besar dan menggunakan segala cara untuk meraih keuntungan. 

Melihat ketiga alasan pembuatan berita hoax, kita sebagai pembaca perlu berhati-hati apabila menjumpai berita hoax. Mengingat sudah jelasnya tujuan kabar hoax, maka pembaca atau masyarakat kita perlu mendapatkan edukasi untuk menyikapinya. Edukasi meliputi bagaimana mengidentifikasi kabar hoax, kemampuan literasi media (seperti membedakan foto dan video asli atau rekayasa), dan bijak dalam bersosial media atau berinternet sehat. Edukasi dilaksanakan supaya setiap anggota masyarakat mempunyai kemampuan sensor mandiri untuk menyikapi, minimal tidak menjadi korban hoax. Target maksimalnya dapat mengidentifikasi berita hoax dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Edukasi diberikan dapat melalui sekolah, keluarga, komunitas masyarakat, dan sebagainya.

Dengan sensor mandiri berarti setiap anggota masyarakat dalam civil society telah siap dan berdaya dalam menyikapi hoax secara bijaksana. Kita tidak dapat bergantung pada polisi cyber maupun pemerintah untuk melakukan sensor. Kita bisa dan pasti bisa dengan mulai dari apa yang paling kita butuhkan. Meskipun demikian, kita perlu mengembangkan sikap sebagai warga negara Indonesia yang baik harus dikembangkan dan dikreasikan untuk melawan kabar hoax di tengah keberagaman masyarakat. Sikap tersebut antara lain:
  • 1. Tenggang rasa atau tepo sliro yaitu kemauan untuk mengendalikan diri atau tidak mudah terprovokasi oleh berita hoax yang provokatif.
  • 2. Toleransi yaitu saling menghormati keberagaman. Keberagaman adalah given atau takdir Tuhan, jadi terimalah dengan ikhlas. Kita hidup dalam masyarakat yang berbeda, didaerah tertentu kita mungkin menjadi mayoritas, namun di tempat lain kita bisa saja jadi minoritas.
  • 3. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi yang sesaat dan tidak berpikir jangka panjang.
  • 4. Nasionalisme dan cinta tanah air. Dua semangat ini merupakan jiwa dalam hidup berbangsa dan bernegara Indonesia. Kalau bukan kita yang bangga terhadap integrasi bangsa lalu siapa lagi. Mari kita banggakan bangsa dan negara kita dengan pemberitaan yang faktual, akurat dan berimbang.
  • 5. Salurkan bakat dan kemampuan terutama IT pada bidang yang seharusnya dan tidak mengorbankan keberagaman masyarakat. Kegiatan harmoni kebhinnekaan dalam petikan dawai Nusantara merupakan contoh yang baik. Persatuan adalah mahal harganya, sehingga jangan usik dan nodai dengan aksi yang tidak bertanggung jawab. Ingatlah perjuangan para pendiri bangsa ini.

Referensi:
http://independen.id/read/data/502/mewaspadai-pesan-radikal-dalam-buku-sekolah
http://independen.id/read/data/499/sekolah-dan-benih-radikalisme
http://independen.id/view/frame?url=https%3A%2F%2Fwww.terakota.id%2Fharmoni-kebhinekaan-dalam-petikan-dawai-nusantara%2F

1 komentar:

  1. I am sure this piece of writing has touched all the internet viewers, its really really nice article on building up new webpage.

    BalasHapus

Berlangganan

//